Pencarian

Prospek Batu Bara Metalurgi Menguat, Cadangan RI Capai 490 Juta Ton

Jumat, 16 Oktober 2026 • 08:22:01 WIB
Prospek Batu Bara Metalurgi Menguat, Cadangan RI Capai 490 Juta Ton
Cadangan batu bara metalurgi Indonesia tercatat sekitar 490 juta ton pada 2025.

JAMBI — Kebutuhan baja dunia yang tetap tinggi membuka peluang besar bagi batu bara metalurgi, seiring cadangan Indonesia yang tercatat mencapai sekitar 490 juta ton pada 2025. Komoditas ini menjadi bahan baku utama kokas untuk pembuatan besi dan baja, berbeda dari batu bara termal yang dipakai pembangkit listrik. Bagi pelaku tambang dalam negeri, prospek ini menjadi sinyal positif untuk menyusun strategi produksi jangka panjang.

Paragraf pembuka: Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sumber daya batu bara metalurgi nasional sekitar 2,12 miliar ton, dengan cadangan sekitar 490 juta ton. Angka itu menempatkan Indonesia pada posisi yang cukup diperhitungkan dalam rantai pasok bahan baku baja global. Salah satu wilayah yang menjadi lokasi pengembangan komoditas ini adalah Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Murung Raya.

Apa Bedanya Batu Bara Metalurgi dan Termal

Batu bara metalurgi berfungsi sebagai bahan baku pembuatan kokas (coke), material kaya karbon yang dipakai dalam pengolahan bijih besi di tanur tinggi (blast furnace). Fungsi utamanya mendukung reaksi kimia dan menjaga kondisi material selama proses produksi berlangsung. Batu bara termal, sebaliknya, dibakar untuk menghasilkan listrik di pembangkit tenaga uap (PLTU).

Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy, menegaskan keduanya punya karakteristik dan kegunaan yang tidak bisa dipertukarkan begitu saja.

"Jadi kalau kita lihat, batu bara metalurgi jadi kokas, kemudian menjadi besi baja. Batu bara termal dibakar masuk ke PLTU, jadi listrik. Batu bara metalurgi dapat menggantikan batu bara termal, tetapi tidak sebaliknya. Itu penting sekali," kata Irwandy.

Secara teknis, batu bara metalurgi masih bisa dipakai sebagai bahan bakar PLTU melalui pencampuran dengan jenis batu bara lain agar memenuhi spesifikasi pembakaran. Namun cara itu dinilai kurang ekonomis karena harganya relatif lebih tinggi. Sebaliknya, batu bara termal tidak memiliki sifat pembentukan kokas yang dibutuhkan industri baja, ditambah kandungan abu dan sulfur yang memengaruhi kesesuaiannya sebagai bahan baku.

Penilaian Kualitas Tidak Cukup dari Nilai Kalori

Karena fungsinya khusus, penilaian kualitas batu bara metalurgi tidak bisa hanya mengacu pada nilai kalori. Ada sejumlah parameter yang menentukan kelayakannya untuk industri besi dan baja, mulai dari kadar abu, sulfur, fosfor, hingga kemampuan membentuk kokas. Parameter-parameter itu yang membedakan batu bara metalurgi dari batu bara termal biasa.

Permintaan Baja Jadi Penopang Utama

Industri baja menjadi faktor paling menentukan prospek pasar batu bara metalurgi. Kebutuhan baja untuk gedung, infrastruktur transportasi, kendaraan, kapal, dan berbagai produk manufaktur berbanding lurus dengan permintaan bahan baku produksinya.

Data World Steel Association (WSA) mencatat produksi baja mentah dunia pada 2025 mencapai sekitar 1,85 miliar ton. Sektor konstruksi menyumbang sekitar 52% dari penggunaan baja global, memperlihatkan eratnya kaitan antara pembangunan fisik dan kebutuhan industri baja.

Ketua Komite Minerba Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hendra Sinadia, menilai pasar batu bara metalurgi masih menarik. Selain ditopang kebutuhan industri baja, pasar komoditas ini juga dipengaruhi ketersediaan pasokan dari negara produsen utama.

"Prospek industri coking coal atau batu bara metalurgi dinilai positif dan menjanjikan, didorong oleh tingginya permintaan dari industri baja global serta keterbatasan pasokan di beberapa negara produsen utama. Menurut International Energy Agency (IEA), permintaan batu bara metalurgi diproyeksikan stabil pada 2026 dan mengalami sedikit peningkatan pada 2027," ujar Hendra.

Proyeksi WSA menunjukkan permintaan baja dunia naik dari 1,718 miliar ton pada 2025 menjadi 1,722 miliar ton pada 2026. Pada 2027, permintaan diproyeksikan bertambah sekitar 1,7% menjadi 1,752 miliar ton. Angka itu menjadi salah satu indikator bagi pelaku industri batu bara metalurgi dalam menyusun strategi produksi dan pemasaran jangka panjang.

Faktor Lain yang Menentukan Arah Pasar

Pertumbuhan permintaan bukan satu-satunya penentu. Ketersediaan pasokan, pergerakan harga komoditas, biaya produksi, serta perubahan teknologi pembuatan baja turut memengaruhi perkembangan industri batu bara metalurgi. Perubahan teknologi ini penting dicermati karena bisa menggeser komposisi bahan baku yang dibutuhkan industri baja ke depan.

Peluang Indonesia di Rantai Pasok Global

Di tengah kebutuhan industri baja dunia, Indonesia memiliki peluang memperkuat posisinya dalam rantai pasok batu bara metalurgi. Salah satu lokasi pengembangannya berada di Kalimantan Tengah, tempat PT Borneo Prima (BP) beroperasi di Kabupaten Murung Raya dengan luas konsesi sekitar 15.000 hektare.

Chief Financial Officer Borneo Prima, Ilham Nugraha, menyatakan ketersediaan sumber daya dan cadangan menjadi landasan perusahaan merencanakan kesinambungan operasional. Perusahaan menggunakan standar pelaporan Joint Ore Reserves Committee (JORC) untuk menyajikan informasi sumber daya dan cadangan berdasarkan penilaian teknis pihak kompeten.

"Borneo Prima memiliki sumber daya (resource) dan cadangan (reserve) yang cukup mencukupi untuk produksi sampai beberapa p[eriode ke depan]," ujar Ilham.

Penutup: Kombinasi permintaan baja yang stabil, keterbatasan pasokan dari sejumlah negara produsen, dan cadangan dalam negeri yang memadai membuat batu bara metalurgi tetap punya ruang tumbuh. Bagi Indonesia, komoditas ini bukan sekadar alternatif batu bara termal, melainkan pintu masuk ke rantai pasok industri baja global yang nilainya jauh lebih besar.

Follow katajambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: medcom.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks