Pencarian

Danantara Incar Investasi Rp542 Triliun, Laba BUMN Naik 18,4 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 • 08:21:31 WIB
Danantara Incar Investasi Rp542 Triliun, Laba BUMN Naik 18,4 Persen
Danantara menargetkan investasi 20–30 miliar dolar AS di sektor industri strategis dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

JAMBI — Danantara Indonesia menargetkan investasi di sektor industri strategis senilai 20–30 miliar dolar AS atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Target itu ditopang lebih dari 40 proyek strategis, dari hilirisasi mineral hingga semikonduktor, seiring laba bersih gabungan BUMN yang naik 18,4 persen menjadi Rp214,9 triliun pada Januari–Agustus 2026.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa menyampaikan target investasi itu setelah memaparkan portofolio proyek dalam sesi C-Suite Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Menurut dia, angka 20–30 miliar dolar AS bukan batas akhir. "Kalau kita bisa mencapai 20–30 miliar dolar AS dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan, itu akan sangat bagus. Tapi kami ingin lebih dari itu," kata Sigit.

Ambisi investasi tersebut berjalan seiring perbaikan kinerja perusahaan pelat merah. Laba bersih gabungan BUMN naik 18,4 persen menjadi Rp214,9 triliun pada Januari–Agustus 2026, hasil dari transformasi pengelolaan yang dijalankan Danantara. Dua agenda itu diarahkan untuk memperkuat industri dalam negeri dan menahan nilai tambah di dalam negeri.

Lebih dari 40 Proyek, Lima Klaster Industri

Danantara telah menyiapkan lebih dari 40 proyek strategis dalam kerangka pengembangan industri lima tahun. Sebagian proyek kini menjalani studi kelayakan (feasibility study/FS) dan siap dilanjutkan ke tahap perancangan teknik awal (front-end engineering design/FEED) sesuai kebutuhan.

Portofolio itu terbagi dalam lima klaster utama: energi; pangan dan teknologi kesehatan; infrastruktur, mobilitas, dan telekomunikasi; pertahanan, maritim, dan dirgantara; serta material maju. Klaster lain mencakup elektronika, permesinan, teknologi finansial, dan semikonduktor.

Sigit menyebut mineral, material maju, dan semikonduktor sebagai sektor prioritas karena dinilai paling besar menciptakan nilai tambah. Pengembangan mineral tidak berhenti pada ekstraksi, tetapi diarahkan sampai pengolahan menjadi komponen, subsistem, dan produk akhir untuk kebutuhan industri.

Energi Sampai Cip: Isi Portofolio

Di sektor energi, Danantara mendorong pengembangan tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME), pembangkit listrik tenaga nuklir, kilang minyak, serta penguatan rantai nilai baterai kendaraan listrik.

Infrastruktur digital masuk lewat kecerdasan buatan (AI) nasional, komputasi awan berdaulat (sovereign cloud), pusat data berkapasitas daya 1 GW, dan teknologi blockchain. Danantara juga merencanakan pengembangan enam bidang semikonduktor, termasuk cip pengendali dan cip untuk pusat data, agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi.

Pada sektor pangan dan kesehatan, portofolio mencakup industri bahan baku farmasi, vaksin, obat biologis, biosimilar, dan peralatan medis. Sigit menyoroti ketergantungan impor bahan baku obat yang masih hampir 94 persen sebagai persoalan yang harus diatasi lewat penguatan industri domestik.

Di material maju, Danantara menyiapkan pengolahan unsur tanah jarang, tembaga, aluminium, dan baja tahan karat, termasuk produk logam bernilai tambah untuk manufaktur. Ada pula rencana pengembangan 10 kota pintar (smart cities) bersama Danantara Asset Management serta koridor teknologi yang mencakup semikonduktor, kendaraan listrik, pertahanan, dan elektronika.

Mengutamakan Kapasitas yang Sudah Ada

Danantara memprioritaskan penguatan kapasitas industri yang telah tersedia, termasuk perusahaan BUMN. Bila kemampuan dalam negeri belum mencukupi, lembaga itu membuka peluang kerja sama dengan perusahaan lain atau membangun industri baru bersama mitra strategis.

"Dan kalaupun memang tidak ada yang existing, maka Danantara juga siap membangun industri baru bersama mitra-mitra strategis kita," ujar Sigit. Untuk mendukung pelaksanaan proyek, Danantara membuka kolaborasi dengan perusahaan, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian dalam maupun luar negeri.

Sigit menegaskan kerja sama itu harus berujung pada proyek konkret, bukan sekadar penandatanganan dokumen. "Kita tidak hanya akan berhenti pada MoU atau NDA," katanya.

Bagi publik, arah kebijakan ini menyangkut lapangan kerja di sektor industri pengolahan dan pasokan bahan baku obat dalam negeri. Bagi investor, target Rp542 triliun menjadi sinyal skala proyek yang akan ditawarkan Danantara dalam dua sampai tiga tahun mendatang.

Follow katajambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bataviapos.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks