JAMBI — Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan menahan suku bunga deposit facility di level 2,5% pada Kamis (29/10), meski inflasi kawasan melonjak ke 3,8% atau tertinggi sejak September 2023. Keputusan bulat Dewan Gubernur itu diambil dengan alasan posisi kebijakan saat ini dinilai sudah cukup kuat, sementara pasar uang justru memperkirakan peluang 67% kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.
Keputusan mempertahankan suku bunga acuan itu diumumkan setelah ECB menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September lalu. Dewan Gubernur menilai kenaikan harga energi telah mendorong inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi zona euro, namun inflasi inti dan pertumbuhan upah masih relatif stabil.
"Pada saat ini, kami tidak melihat adanya efek putaran kedua selain dari apa yang telah dimasukkan ke dalam proyeksi," ujar Presiden ECB Christine Lagarde, dikutip dari CNBC, Jumat (30/10/2026).
Dua Faktor yang Sempat Dorong ECB Naikkan Bunga
Lagarde membeberkan sejumlah faktor yang berkembang sejak pertemuan kebijakan sebelumnya. Kenaikan harga energi mencakup minyak, bensin, bahan bakar, gas, serta margin pengolahan minyak. Tekanan lain datang dari lonjakan biaya pembiayaan jangka panjang, dengan rata-rata yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik sekitar 35 basis poin.
Dua faktor itu sempat membuka peluang Dewan Gubernur menaikkan suku bunga acuan. Namun Lagarde menegaskan akumulasi ketidakpastian yang meningkat dan inflasi inti yang secara umum tidak berubah membuat dewan memilih bertahan.
"Dengan mempertimbangkan akumulasi ketidakpastian yang kian meningkat serta inflasi inti yang secara umum tidak berubah, Dewan Gubernur secara bulat memutuskan bahwa posisi kita saat ini sudah cukup kuat untuk menahan suku bunga dan pendekatan terukur tetap menjadi langkah yang paling tepat," tambah Lagarde.
Inflasi Energi Melesat 18,8% akibat Konflik Timur Tengah
Tingkat inflasi utama zona euro bulan lalu melonjak ke 3,8%, tertinggi sejak September 2023. Inflasi energi melesat hingga 18,8% akibat gejolak yang terus membara di Timur Tengah.
Gelombang tekanan harga energi memuncak usai meletusnya perang antara AS-Israel melawan Iran pada Februari lalu. Kondisi tersebut membuat ECB menaikkan suku bunga pada Juni untuk pertama kalinya sejak 2023.
Meski demikian, Dewan Gubernur menyebut ekonomi zona euro masih mampu tumbuh pada kuartal III tahun ini. Pemulihan sektor jasa sejak awal konflik menopang aktivitas, sementara manufaktur, layanan digital, dan ekspor terbantu gelombang investasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Belanja pemerintah untuk infrastruktur dan pertahanan turut menjaga aktivitas bisnis.
Biaya Pinjaman Prancis dan Fragmentasi Pasar Jadi Pantauan
Lagarde menyoroti ECB akan terus memantau kenaikan biaya pinjaman di Prancis serta meningkatnya fragmentasi pasar yang sempat membuat pengamat cemas. Lonjakan biaya pinjaman jangka panjang di berbagai belahan dunia, menurutnya, tidak hanya didorong ekspektasi inflasi dan suku bunga.
Penerbitan utang oleh sejumlah perusahaan raksasa teknologi yang menerbitkan lebih banyak obligasi jangka panjang ikut memicu persaingan ketat di pasar. Kondisi itu menambah tekanan pada biaya pembiayaan global, termasuk di kawasan Eropa.
Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Bisnis
Data LSEG setelah pengumuman menunjukkan pasar uang memperkirakan peluang sekitar 67% kenaikan suku bunga pada Desember. Bagi investor obligasi, sinyal tersebut berarti yield tenor panjang berpotensi tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi pelaku bisnis di Indonesia, arah kebijakan ECB tetap relevan lewat jalur kurs dan arus modal. Suku bunga zona euro yang bertahan di 2,5% untuk sementara memberi ruang bagi pergerakan dolar AS, namun ekspektasi kenaikan Desember dapat kembali mengubah dinamika aliran dana ke pasar emerging.
Harga energi menjadi variabel kunci yang perlu dicermati. Bila gejolak Timur Tengah mereda, tekanan inflasi Eropa bisa mengendur dan peluang kenaikan suku bunga Desember menyusut. Sebaliknya, eskalasi baru akan memperkuat ekspektasi pengetatan lanjutan.