JAMBI — Ketua Komisi V DPR Lasarus dan Wakil Ketua Komisi V Syaiful Huda kompak menyatakan dukungannya terhadap rencana pengintegrasian Badan Geologi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Keduanya menilai langkah ini akan menyelesaikan masalah koordinasi yang selama ini kerap menjadi hambatan dalam penanganan bencana.
Wacana ini pertama kali disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memimpin rapat terbatas penanganan bencana di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9). Dalam rapat yang dihadiri Kepala Badan Geologi Lana Saria dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani itu, Prabowo belum memutuskan apa pun dan menyebut integrasi masih akan dibahas.
Efisiensi dan Efektivitas Jadi Alasan Utama
"Ya kami prinsip mendukung ya. Karena sifat koordinasi yang paling nyaman di pemerintah tuh seperti apa, gitu loh. Kami sifatnya kan menerima, ya. Memang kalau menurut kami sih kalau mau mempersedikit badan ya, ada baiknya sih dari sisi efisiensi juga ya. Karena koordinasi juga jadi lebih mudah," kata Lasarus di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).
Lasarus menjelaskan, selama ini Badan Geologi dan BMKG sama-sama memiliki tugas yang beririsan dalam pengamatan fenomena alam. Badan Geologi bertugas mengamati aktivitas gunung berapi, sementara BMKG memiliki instrumen serta sumber daya manusia yang berkaitan dengan pengamatan geologi.
"Memang kalau menurut saya sih saya setuju kalau itu digabungin. Ya, itu lebih efektif kalau menurut saya dan juga lebih efisien dari sisi komunikasi, ya," ujarnya.
Fokus pada Mitigasi Bencana
Senada dengan Lasarus, Syaiful Huda menilai penggabungan kedua lembaga akan membuat koordinasi lebih efektif. Menurutnya, urusan kebencanaan selama ini masih tersebar di berbagai kementerian dan lembaga, sehingga penanganannya kerap tumpang tindih.
"Nah, terkait dengan mitigasi yang sifatnya sebelum bencana, saya kira memang ada kebutuhan juga untuk mengintegrasikan beberapa kelembagaan itu. Paling tidak Badan Geologi dengan BMKG," papar Huda.
"Jadi dua-duanya akan memenuhi apa yang dicita-citakan gitu. Yang pertama untuk memastikan semua potensi kebencanaan bisa diantisipasi dengan baik dengan mengintegrasikan kelembagaan-kelembagaan itu. Saat yang sama pascabencana ditangani juga oleh kelembagaan yang terintegrasi," imbuh dia.
Persoalan Administratif Diserahkan ke Pemerintah
Meski mendukung, Lasarus tak menampik adanya persoalan administratif yang bakal muncul. Saat ini Badan Geologi bernaung di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sementara BMKG berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
"Fokusnya ke mana dulu? Kalau fokus ke bencana, menurut saya memang jauh lebih efektif barang itu ada bersama BMKG," ujarnya.
"Karena sebagian peralatan BMKG ini juga dipakai oleh Badan Geologi, untuk data geologi gitu loh. Jadi, monggo saja lah, kami serahkan sepenuhnya kepada pemerintah dan menurut saya baik sih. Ide itu baik," sambung Lasarus.
Presiden: Indonesia di Ring of Fire
Dalam ratas tersebut, Prabowo menegaskan pemerintah akan terus memantau potensi bencana, termasuk erupsi gunung berapi. Ia menyebut Indonesia berada di kawasan cincin api (ring of fire) yang rawan bencana geologi.
"Sementara saya lihat kita sudah buat maksimal, ini semua menjadi bahan untuk kita merencanakan langkah-langkah ke depan," kata Prabowo.
"Sementara kita kan ada di ring of fire, kita siap, ternyata kan erupsi terjadi lagi di beberapa tempat, di Sumatera Utara, Jawa Timur, Halmahera. Ini kita monitor terus," sambungnya.
"Kepala Badan Geologi nanti saya kira kerja sama lebih erat dengan yang lain untuk monitor ini. Nanti kita pikirkan apakah Badan Geologi itu harus diintegrasikan bersama BMKG. Tapi ya nanti kita bahas itu," imbuh Prabowo di hadapan para menteri dan kepala daerah terdampak bencana.