JAMBI — PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI tengah mengkaji pembuatan ambulans terbang dengan pesawat NC212 sebagai kandidat utama. Langkah ini menyusul instruksi Presiden Prabowo Subianto yang mendorong penyediaan ambulans udara untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil. Jika terwujud, layanan ini berpotensi memangkas waktu evakuasi medis yang selama ini bisa mencapai 7-9 jam di sejumlah wilayah.
Jakarta — Pengembangan ambulans terbang yang diinisiasi pemerintah mulai menemukan bentuk teknisnya. PTDI menilai pesawat NC212 punya karakteristik yang cocok untuk misi evakuasi medis, terutama karena proses bongkar-muat pasien dinilai lebih mudah dibanding platform lain.
VP Business Development & Marketing PTDI Heber M. F Panjaitan menyatakan pengkajian masih berjalan. Pihaknya juga membuka peluang menggandeng mitra eksternal, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk merealisasikan program tersebut.
Mengapa NC212 Dipilih
NC212 dinilai fleksibel untuk kebutuhan ambulans terbang. Heber menyebut kemudahan akses masuk-keluar pasien menjadi pertimbangan utama, karena evakuasi medis menuntut penanganan cepat dan minim hambatan di kabin.
"Kita juga sedang explore untuk ambulans terbang. Jadi kita melihat platform NC212 ini cukup fleksibel untuk digunakan sebagai ambulans terbang, karena loading-unloading untuk orang sakit itu lebih mudah," ujar Heber dalam gelaran TNI Fair di Monumen Nasional, Jakarta Pusat.
Selain NC212, PTDI tidak menutup kemungkinan memakai platform lain. Heber menyebut N219 hingga RM200 sebagai opsi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan operasional dan skema kerja sama yang dibangun.
"Ini bisa kita kerja samakan dengan BRIN atau pihak-pihak lain. Jadi platformnya bisa 212, bisa N219, bisa juga RM200," terangnya.
Latar Belakang: Instruksi Prabowo
Gagasan ambulans udara pertama kali disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memberikan Keterangan Pemerintah atas RUU APBN 2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, 14 Agustus 2026. Prabowo menekankan negara harus hadir hingga ke wilayah paling sulit dijangkau.
Menurut Prabowo, masih ada masyarakat yang harus menempuh perjalanan 7-9 jam untuk mendapat layanan kesehatan. Kondisi itu juga menyulitkan ibu hamil yang membutuhkan pertolongan medis.
"Negara harus hadir sedekat mungkin dengan rakyat, untuk itu kita akan buat ambulans udara dengan heli dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, pasir, sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa tidak dievakuasi ketika dia sakit," kata Prabowo.
Prabowo menyebut terobosan ini sebagai jalan keluar, termasuk rencana menghadirkan tim dokter terbang yang bisa menjangkau pasien di lokasi terpencil.
BRIN Siapkan Ekosistem N219
BRIN merespons gagasan tersebut dengan mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya, N219A. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan N219 dikembangkan bersama PTDI dan punya kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), sehingga bisa beroperasi dari landasan pendek.
Varian N219A dirancang amfibi dan dapat beroperasi di wilayah perairan. Kedua tipe itu diproyeksikan mendukung evakuasi medis, terutama bagi masyarakat di kawasan kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau lewat jalur darat.
Bagi PTDI, keterlibatan dalam program ambulans udara memperkuat posisinya sebagai pemasok pesawat untuk kebutuhan domestik. Namun realisasinya masih bergantung pada hasil pengkajian teknis dan kesepakatan kerja sama dengan para pemangku kepentingan.